Pada tanggal 5 Januari 2015, pasar jual beli Bitcoin terbesar kedua
di dunia bernama Bitstamp, terpaksa menutup situsnya dan meminta semua
member untuk berhenti melakukan deposit ke wallet mereka. Trade exchange
yang volume perdagangannya mencapai 15.000 Bitcoin dalam sehari itu
menyatakan bahwa BitStamp telah kehilangan kurang lebih 19.000 Bitcoin
(atau seharga 5,1 juta dollar AS pada saat itu). Hingga saat ini, belum
diketahui pasti apa atau siapa penyebab lenyapnya sejumlah Bitcoin
tersebut.
Pembobolan dalam sistem keamanan BitStamp ini membuat orang-orang
teringat tentang apa yang terjadi di Mt.Gox. Harga Bitcoin anjlok
sebanyak $200 dalam sehari karena ada 744.000 Bitcoin yang hilang akibat
kesalahan manajemen di Mt.Gox. Tanpa ganti rugi, Mt.Gox bangkrut dan
rasa percaya publik akan Bitcoin mulai melemah. Keadaan ini menyebabkan
harga Bitcoin
terus menurun dari yang awalnya $800 menjadi $150 per
Bitcoin. Kasus serupa terulang kembali di Bitstamp ketika pasar tersebut
menutup situsnya secara mendadak. Disitulah saatnya komunitas Bitcoin
mulai bertanya, “Apakah BitStamp akan berakhir seperti Mt. Gox?”
Bitstamp tutup kurang lebih selama 5 hari, dan pada saat itu, harga
Bitcoin yang awalnya berada di harga 4 juta, menurun ke harga 3,5 juta.
Banyak yang berspekulasi bahwa ada kemungkinan 19.000 Bitcoin yang
hilang dari Bitstamp dijual dalam waktu bersamaan. Masyarakat yang sudah
pesimis dengan Bitcoin, merasa bahwa harga Bitcoin akan semakin turun
seperti apa yang terjadi di kasus Mt.Gox. Namun apa yang benar-benar
terjadi saat ini?
Selama BitStamp tutup, harga Bitcoin memang anjlok ke harga 3,5 juta
namun mencapai kestabilan di titik tersebut. Bersamaan dengan Bitcoin,
komunitas pengguna mata uang digital tersebut juga bertambah dewasa.
Hasil laporan dari CoinDesk menyebutkan bahwa meskipun harga Bitcoin
menurun, ekosistem Bitcoin berkembang pesat jika dibandingkan dengan
tahun sebelumnya. Volume perdagangan Bitcoin yang awalnya berada di
angka 15 milyar dollar AS di tahun 2013, meningkat menjadi 23 milyar
dollar AS di tahun 2014. Belum lagi ditambah merchant dengan penghasilan
milyar dollar AS per tahun seperti Microsoft, Dell, dan Expedia yang
menerima Bitcoin. Jumlah academia yang meneliti tentang Bitcoin pun
meningkat tiga kali lipat dari tahun sebelumnya. Semua ini menunjukkan
bahwa Bitcoin tetap bertahan meskipun diterjang dengan berbagai musibah.
Kini BitStamp.net sudah kembali beroperasi dan mereka memberikan
biaya transaksi gratis kepada membernya untuk berdagang Bitcoin di
tempat mereka selama seminggu demi menebus kesalahan mereka. Tidak
seperti Mt.Gox, BitStamp berjanji akan mengganti rugi semua Bitcoin yang
hilang kepada pemilik masing-masing. Saat ini, komunitas Bitcoin sudah
mulai dewasa dan bertanggung jawab dengan keberadaan cryptocurrency yang
mereka punya. Pelajaran yang dapat kita petik adalah selama kita masih
percaya dengan Bitcoin, maka Bitcoin tidak akan mati. Meskipun banyak
musibah yang menerpa, potensi yang dimiliki Bitcoin bukan berarti
menjadi tidak berarti. Bitcoin, hingga detik ini, adalah teknologi
pertama yang dapat merubah dunia finansial menjadi tempat yang lebih
baik, lebih murah, dan anti politisasi.
Bukankah itu yang sebenarnya kita inginkan?
Opini dari Suasti Atmastuti Astaman
Business Development Manager, Bitcoin Indonesia

Tidak ada komentar:
Posting Komentar